Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Film Penuh Inspirasi

Beberapa waktu yang lalu saya baru saja menonton fim Cahaya Dari Timur, sebuah film yang sebenarnya sudah lama tayang di bioskop, namun baru saya nikmati kehadirannya lewat layar televisi. Tak soal, karena memang film seperti ini tak bakal lekang oleh waktu, soalnya sangat bagus dan banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita di film ini.

cahaya dari timur beta maluku
Cahaya Dari Timur

Film ini Cerita tentang konflik antar agama di Maluku pada tahun 1999, hingga akhirnya sepak bola mampu menyatukan perbedaan dan menghilangkan trauma konflik pasca kerusuhan 1999.

Diceritakan mengenai konflik antar agama yang merenggut banyak korban, sekian lama konflik ini berkecamuk. Awalnya hanya di Ambon, namun akhirnya merembet ke daerah lain, termasuk Tulehu. Sani Tawainella, seorang tukang ojek yang dulunya pemain bola di Piala Pelajar Asia tahun 1996, tak kuasa melihat anak-anak tiap harinya melihat konflik. Maka atas inisiatifnya dilatihlah anak-anak ini main bola tiap sore hari. Bersama temannya yang juga mantan pemain bola, Rafi.

Lima tahun berselang, konflik sudah usai, ada gagasan dari Rafi dan juga Sani untuk mendirikan sebuah Sekolah Sepak Bola (SSB), maka berdirilah SSB Tulehu Putra, dan disinilah muncul permasalahan baru. Rafi mengklaim kalau SSB itu adalah dia pendirinya, Sani tak terima, percekcokkan timbul hingga akhirnya Sani memilih untuk mundur dan tidak melatih anak-anak itu.

Ketika Sani tak lagi melatih, datanglah Yosef, guru SMK Passo, sebuah sekolah yang muridnya beragama Kristen. Dia menawari Sani untuk melatih anak-anak SMK Passo bermain bola, karena akan menghadapi turnamen antar klub di daerah mereka. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya diiyakan, melatihlah Sani di sekolah tersebut.

Alfin dan Salembe yang hanya mau dilatih oleh Sani, tau kabar kalau dia melatih di SMK Passo, datanglah Alfin dan Salembe kesekolah tersebut dengan maksud mau bergabung untuk ikut latihan. Karena sekolah tersebut sedang butuh pemain dengan posisi bertahan dan pemain sayap, kebetulan pas dengan posisi Alfin dan Salembe, maka diijinkanlah kedua bocah itu ikut latihan.

Singkatnya, turnamen pun digelar, kesebelasan SSB Tulehu Putra bertemu dengan SMK Passo di final. Pada partai final akhirnya dimenangkan SSB Tulehu Putra.

Usai turamen digelar, ada pertemuan antara utusan pengurus PSSI pusat, PSSI Maluku, dan tentu saja Sani dan Rafi ikut hadir. Inti pertemuan tersebut membahas tentang turnamen U-15 di Jakarta. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, ditunjuklah Sani sebagai pelaatih kesebelasan U-15 Maluku. Rafi merasa kecewa, karena dirinya merasa lebih pantas melatih U-15 Maluku karena telah berhasil membawa SSB Tulehu Putra juara turnamen. Tapi nyatanya keputusan tidak berubah, Sani lah yang ditetapkan mejadi pelatih.

Salah satu pertimbangan dalam memilih Sani adalah keberhasilannya menyatukan anak-anak dari agama berbeda saat melatih SMK Passo. Karena saat itu isu agama menjadi sesuatu yang sangat rawan. Pun demikian saat melatih U-15 Maluku, anak-anak dari Tulehu dan Passo dijadikan dalam satu tim. Gesekan-gesekan mulai muncul, apalagi bila dikaitkan dengan agama dan kenangan saat kerusuhan, dimana orang tua dari pemain ada yang meninggal saat terjadi konflik. Meski demikian Sani tetap bersikeras untuk membawa anak-anak tersebut ke Jakarta.

Keuangan menjadi kendala lain untuk mengikuti turnamen di Jakarta, karena dana dari PSSI Maluku belum mencukupi. Disinilah Sani dihadapkan pada dilema, dengan berbagai daya dan upaya maka dana pun bisa terkumpul, sumbangan dari warga dan usaha keras sani akhirnya bisa membiayai keberangkatan ke Jakarta. Berangkatlah rombongan Tim U-15 Maluku ke Jakarta.

Pertandingan pertama melawan DKI Jakarta, saat tertinggal terlebih dahulu dan ada pemain yang kena kartu merah terjadi keributan antar sesama pemain Maluku, rupanya “dendam” masa lalu masih menjadi pemicu keributan tersebut. Tim Maluku kalah. Kabar tersebut sampai juga ke Maluku. Istri Sani, Haspa,  pun ikut dengar, kecewa, dan memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya di Ambon.

Kondisi Tim Maluku pasca kekalahan dari DKI jadi tak menentu, antar pemain saling menyalahkan. Sani yang tahu kalau istrinya pulang kerumah orang tuanya juga terpukul, dia merasa usahanya selama ini sia-sia, sempat dia berfikir untuk pulang ke Tulehu. Yosef berusaha menenangkanny meski Sani bersikeras untuk pulang. Dengan bujuk rayu dari rekannya yang jadi pengurus PSSI pun akhirnya bisa membuat hati Sani menjadi luluh. Sani melanjutkan perjuangannya bersama anak didiknya.

Pada pertandingan berikutnya masih saja tak semulus harapan. Babak pertama Jeda babak pertama. Tim Maluku tertinggal, para pemain masih saja saling menyalahkan, bahkan harus ribut antar teman diruang ganti. Sani begitu terpukul dengan kelakuan anak didiknya. Namun dengan motivasi tinggi dia berusaha memompa semangat para pemain. Dia berusaha membakar semangat dan menghilangkan ke-aku-an para pemain. Tak ada Tulehu, tak ada Passo, kita adalah Maluku: “BETA MALUKU!”.

Momen inilah yang menjadi titik balik para pemain. Kekompakkan tim dan rasa sebagai orang Maluku membuat perjuangan para pemain membuahkan hasil. Kemenangan demi kemenangan berhasil diraih. Singkat cerita akhirnya Maluku berhasil melaju kebabak final berhadapan dengan DKI Jakarta.

Kabar dari Jakarta tentang langkah heroik anak-anak maluku pun sampai kekampung halaman mereka. Masyarakat Maluku bersuka cita, seolah mulai melupakan konflik yang melanda daerah itu beberapa tahun lalu. Berbondong-bondong masyarakat dari berbagai agama berkumpul, menyaksikan pertandingan final yang ditayangkan di televisi, mereka melupakan konflik, dipersatukan oleh sepak bola yang membawa nama Maluku.

Pertandingan final sendiri berlangsung seru. DKI Jakarta unggul terlebih dahulu. Anak-anak Maluku sempat down, namun berbekal semangat akhirnya mereka mampu menyamakan kedudukan. Skor sama kuat dan harus ditentukan lewat drama adu penalti.

Sorak-sorai para pendukung Maluku pun harus terhenti, karena dibabak adu penalti siaran langsung televisi sudah usai. Adu penalti tidak ditayangkan. Tak habis akal, tidak mau ketinggalan dengan pertandingan, beberapa orang menelpon kerabat mereka yang kebetulan menyaksikan langsung pertandingan. Orang-orang berkumpul di Gereja, Masjid, untuk mendengarkan laporan hasil adu penalti lewat pengeras suara. Harap-harap cemas perasaan mereka, hingga akhirnya penendang terakhir dari Maluku berhasil mencetak gol dan memastikan kemenangan. Pecah suasana. Rasa haru bercampur bahagia. Masyarakat Maluku menyambut kemenangan ini dengan penuh suka cita. Trauma konflik seolah terhapuskan, masyarakat Maluku dipersatukan oleh sepak bola, dan orang yang berperan besar atas semua ini adalah Sani.

*****

Saya sangat menikmati film ini. Dari film inilah saya tahu kalau Tim U-15 Maluku inilah yang memunculkan nama-nama yang saat ini malang melintang di klub dan juga tim nasional Indonesia. Sebut saja Alfin Tuassalamony, Hendra Adi Bayauw, dan Risky Pellu.

Film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku di sutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko. Produser Glenn Fredly dan Angga Dwimas Sasongko. Pemeran dalam film ini diantaranya Chicco Jerikho, Shafira Umm, Jajang C. Noer, Abdurrahman Arif, Aufa Asegaf, Bebeto Leutually. Produksi Studio Visinema Pictures.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *